Donderdag, 20 Junie 2013

analisis sintaksis bahasa daerah



 ANALISIS BAHASA DAERAH MELAYU RIAU DESA SEKARA KECAMATAN KEMUNING KABUPATEN INDRAGIRI HILIR DALAM TATARAN FRASE


Dosen Pembimbing    : Ermawati S., S.Pd., M.A
Disusun Oleh             : Siswanto Kelas 6A



Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Islam Riau
Pekanbaru
2013

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah Swt. Yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya,  sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “ Analisis Bahasa Daerah Melayu Riau Desa Sekara Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir dalam Tataran Frase”. Shalawat beriring salam penulis haturkan atas junjungan Nabi Besar Muhammad Saw, yang berjasa besar dalam membangun akhlak manusia. Sehingga menjadi manusia yang beradab dan berilmu pengetahuan seperti saat sekarang ini.
            Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memnuhi tugas individu dan untuk menambah pengetahuan tentang Sintaksis, terutama dalam pengenalan frase Bahasa Daerah Melayu Riau Desa Sekara Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir . Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Ermawati S., S.Pd., M.A. selaku dosen pembimbing serta kepada semua pihak yang telah memeberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
            Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyempurnaan makalah ini. Namun jika masih terdapat kesalahan, penulis minta maaf, penulis menerima kritik dan saran dari pembaca sebagai penyempurnaan makalah ini.
Pekanbaru, 5 April 2013
Siswanto


Penulis










DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................                        i
DAFTAR ISI..............................................................................................................                        ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................             1
1.2 Masalah................................................................................................................             2
1.3 Ruang Lingkup....................................................................................................             3
1.4 Pembatasan Masalah............................................................................................             4
1.5 Penjelasan Istilah.................................................................................................             5
1.6 Kajian Teori.........................................................................................................             7
1.7 Penentuan Sumber Data......................................................................................             8
1.8 Metode Penelitian................................................................................................             9
1.9 Tekhnik Pengumpulan Data................................................................................              10
1.10 Tekhnik Analisis Data......................................................................................               11

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Deskripsi Data....................................................................................................              12
2.2 Analisis Data......................................................................................................               13

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..........................................................................................................             14
3.2 Saran...................................................................................................................              15
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................              16

                                                                                                                                                                                   




BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu riau, yang dilestarikan, dibina dan dikembangkan oleh masyarakat zaman dahulu kepada generasi penerus bangsa, sampai pada saat sekarang ini. Dalam perkembangan kehidupan bahasa antara individu satu dengan yang lainnya berbagai macam ragam, keberagaman bahasa tersebut dikarenakan banyak suku bangasa yang berbeda-beda di nusantara ini. Perbedaan tersebut dalam berbagai aspek pula, baik dari tataran fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan sebagainya. Namun. Disini penulis hanya membahas tentang sintaksis khususnya pada tataran frase dalam Bahasa Daerah Melayu Riau Desa Sekara Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir.
Penulis melihat berbagai macam fenomena yang terjadi dalam penggunaan bahasa melayu riau desa sekara, fenomena yang terjadi dalam bahasa melayu riau desa sekara setelah penulis amati ternyata tidak jauh berbeda dengan bahasa indonesia. Mengapa demikian, karena sejatinya bahasa indonesia itu diambil dari bahasa melayu riau. Oleh sebab itu tidak tampak sekali perbedaannya. Hanya saja pada tataran fonemnya saja yang terlihat berbeda. Misalnya dalam kata telah sampai dalam bahasa Indonesia menjadi lah sampai dalam bahasa daerah melayu Riau desa Sekara. Fonem /t/ dan fonem /e/  hilang dalam bahasa melayu Riau desa Sekara.
Alasan penulis mengambil judul tentang Bahasa Daerah Melayu Riau Desa Sekara Kecamatan Kemuninng Kabupaten Indragiri Hilir dalam tataran Frase adalah untuk mengetahui Frase apa sajakah yang terdapat dalam tuturan bahasa daerah melayu Riau desa Sekara, selain itu penulis juga ingin memperkenalkan bahasa daerah penulis yang merupakan sarana komunikasi yang digunakan oleh masyarakat desa Sekara dalam berinteraksi dengan individu satu dengan individu yang lainnya.
 Karena perlu kita sadari bahwa bahasa sangat berperanan penting untuk alat komunikasi. Bahasa sering digunakan dalam sosialisasi antar suku bangsa. Karena kebutuhan berbahasa tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sumarsono (2008:76) “ Bahasa dikatakan sebagai alat identitas etnik: bahasa daerah adalah alat identitas suku ada pula pandangan adanya hubungna yang tetap dan pasti antara ciri-ciri fisik suatu etnik dengan suatu bahasa”.
Sedangkan menurut pendapat Chaer (2002:30) “ Bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang bersifat arbiter yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat berinteraksi dan mengidentifikasikan diri”.
Berdasarkan penjelasan dari dua ahli diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan berbahasa itu selalu terjadi dalam keseharian kita, setiap bahasa yang kita gunakan dalam keseharian yang berbagai macam dialek itulah yang menjadi identitas dalam diri penutur bahasa tersebut. Selain itu sebagai sistem lambang bunyi bahasa memiliki berbagai aspek pula dalam setiap bahasa daerah misalnya dalam tataran sintaksis khususnya dalam frase.
Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui frase apa saja yang terkandung dalam tuturan bahasa melayu Riau Desa Sakara Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir. Sedangkan manfaat penelitian ini adalah memberikan manfaat praktis dan teoretis, manfaat praktisnya adalah memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang tataran frase dalam bahasa daerah Melayu Riau Dsa Sekara Kecamatan kemuning kabupaten Indragiri Hilir sedangkan manfaat teoretisnya merupakan sumbangan ilmu bagi pembaca khususnya pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

1.2  Masalah

            Bedasarkan latar belakang yang penulis kemukakan maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1.      Apa saja frase yang terkandung dalam tuturan bahasa daerah melayu Riau Desa Sekara Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir?

1.3  Ruang Lingkup Penelitian
              Ruang lingkup penelitian ini termasuk ke dalam ruang lingkup linguistik yaitu pada tataran Sintaksis yang meliputi frase endosentris, frase endosentris  koordinatif, , frase eksosentris, frase nominal, frase verbal, frase adjektival, dan frase numeralia.

1.4  Pembatasan Masalah
          Melihat luasnya kajian sintaksis penulis perlu membatasi masalah yang menyangkut penelitian ini. Penelitian ini hanya menyangkut pada masalah:  apa saja frase yang terkandung dalam tuturan bahasa Daerah Melayu Riau desa Sekara Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir.
           
1.5  Penjelasan Istilah
1.5.1        Bahasa daerah dalam penelitian ini adalah bahasa daerah Melayu Riau Desa Sekara Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir.
1.5.2        Analisis dalam Penelitian ini adalah analisis terhadap bahasa daerah Melayu Riau Desa Sekara Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir. KBBI (2008:58) “Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya).
1.5.3        Frase endosentris menurut Verhaar dalam Sulistyowati (2012:14) “Frasa endosentris adalah frasa yang unsur pusatnya mampu berdistribusu sama (paralel) dengan frasa yang dibentuknya.”
1.5.4        Frase endosentris koordinatif menurut Sulistyowati (2012:15) “Frasa endosentris koordinatif adalah gabungan unsur atau konstituen yang sama kategori kelasnya berdasarkan sifat konstruksi.
1.5.5        Frase eksosentris menurut Ramlan dalam Setyowati (2012:19) “ Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan salah satu unsurnya.”
1.5.6        Frase nominal menurut Setyorini (2012:25) “ Frasa nominal merupakan frasa yang unsur intinya merupakan nomina atau frasa nominal.”
1.5.7        Frase verbal menurut Setyowati (2012:30) “ Yang dimaksud verba adalah salah satu kategori kata yang mengisi predikat pada kalimat verbal.”
1.5.8        Frase adjektival menurut Alwi dalam Setyowati (2012:33) “Adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.”
1.5.9        Frase numeralia menurut Setyowati (2012:38)
“Numeralia adalah kategori yang dapat: (1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, (2) mempunyai potensi untuk mendampingi numeralia lain, dan (3) tidak dapat bergabung dengan kata ‘tidak’atau dengan kata ‘sangat’.”

1.6  Kajian Teori
1.6.1        Frase endosentris menurut Verhaar dalam Sulistyowati (2012:14) “Frasa endosentris adalah frasa yang unsur pusatnya mampu berdistribusu sama (paralel) dengan frasa yang dibentuknya.”
1.6.2        Frase endosentris koordinatif menurut Sulistyowati (2012:15) “Frasa endosentris koordinatif adalah gabungan unsur atau konstituen yang sama kategori kelasnya berdasarkan sifat konstruksi.
1.6.3        Frase eksosentris menurut Ramlan dalam Setyowati (2012:19) “ Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan salah satu unsurnya.”
1.6.4        Frase nominal menurut Setyorini (2012:25) “ Frasa nominal merupakan frasa yang unsur intinya merupakan nomina atau frasa nominal.”
1.6.5        Frase verbal menurut Setyowati (2012:30) “ Yang dimaksud verba adalah salah satu kategori kata yang mengisi predikat pada kalimat verbal.”
1.6.6        Frase adjektival menurut Alwi dalam Setyowati (2012:33) “Adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.”
1.6.7        Frase numeralia menurut Setyowati (2012:38)
“Numeralia adalah kategori yang dapat: (1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, (2) mempunyai potensi untuk mendampingi numeralia lain, dan (3) tidak dapat bergabung dengan kata ‘tidak’atau dengan kata ‘sangat’.”
           
1.7  Penentuan Sumber Data
1.7.1  Populasi
          Populasi dalam Analisis Bahasa Daerah Melayu Riau Desa Sekara Kecamatan Kemuning adalah seluruh tuturan bahasa daerah desa sekara yang berjumlah 50 tuturan.
1.7.2  Sampel Penelitian

            Sampel dalam penelitian ini adalah sampel penuh, artinya peneliti mengambil seluruh sampel yang ada pada populasi yang berjumlah 50 tuturan. Informan dari penelitian ini adalah seluruh penutur yang menuturkan 50 tuturan  bahasa daerah desa sekara.

1.8 Metode Penelitian

            Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu penelitian yang di gunakan untuk menggambarkan dan memaparkan data tentang proses morfofonemik bahasa melayu riau dialek bangkinang.

1.9 Teknik Pengumpulan  Data
            Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penilitian ini:
1.9.1 Teknik Observasi
            Observasi dilakukan secara sistematis  dan sengaja melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala-gejala yang diselidiki. Penelitian ini bermaksud untuk  mengamati penutur asli dalam menggunakan bahasa melayu riau desa sekara.

1.9.2 Teknik Catatan

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:193) Teknik ini digunakan untuk mencatat sesuatu yang diucap informan dalam pengumpulan data yang di teliti.

1.10 Teknik Analisis Data

            Pada penelitian ini penulis sudah  mengumpulkan semua data yang diperoleh kemudian diolah atau di proses sebagai berikut:
1.10.1 Data yang di peroleh di transkripsikan dalam bentuk tulisan
1.10.2 setelah itu, data diterjemahkan dari bahasa melayu riau ke dalam bahasa indonesia 1.10.3 Selanjutnya, data yang telah di kumpulkan diseleksi dan diklasisfikasikan sesuai             dengan objek yang akan di teliti
1.10.4 Data di analisis sesuai dengan toeri yang relevan.
















BAB II PEMBAHASAN
2.1 Deskripsi Data
2.2.1 Bahasa Daerah Desa Sekara

1. Bilo kau balik pi?
2. Lah lamo di siko?
3. Cappatlah, lambat  nian kau ko
4. Mak nak kaghumah ngah
5. Kau nak balian apo?
6. Apo lokaan kau tu?
7. Awak nak balli ghambuta sakillo
8. Mano mak kau?
9. Cappatlah jego wik!
10. Awak lagi ngantuk
11. mak mano teh?
12. Ado jual beju pramuka
13. Kakacik an dengan anak kau dak
14. Siapo yang ngantagh
15. Jengan Nak tabangngak amat
16. Lah pattang
17. Bilo nenek tibo?
18. tidugh sikokan?
19. Nenek cumon samalam jo
20. Oteh Sembeyang
21. Oteh ndak dak duit sen?
22. Kau Belenjo!
23. Di siko leak nian jelan
24. Lah sudah mandi
25. Dak andak taghghik
26. Lambat e kau iko
27. Beghepo ghaggoe
28. Mak ndak kupi
29. Lah lamo kau libughe
30. Paggang kakuat
31. Saghampak jo lah kito
32. Singgah di ghumah
33. Tunggu dulu
34. Masaan awak mi
35. Buat kupi
36. Tia kau lah makan
37. Ko nasi kau
38. Ngambik keghepek
39. Beghutang teghus
40. Dipanasan dulu yo
41. Di mano kunci
42. Ntik antagh mak
43. Oteh kemano
44. Lah latu maen wik
45. MDA di mano
46. Mak mbali campaddak
47. Tallap kau makan
48. Ghambutan masam
49. Alau kaghgho
50. Bewaan awak duku
2.1.2        Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

1     Kapan kamu pulang pi
2        Sudah lama kamu di sini
3        Cepat, lama sekali kamu ini
4        Ibu mau pergi ke rumah ngah
5        Kamu mau membeli apa
6        Apa kegiatan kamu
7        Saya ingin membeli rambutan satu kilogram
8        Mana ibu kamu
9        Cepat bangun wik
10    Saya masih mengantuk
11    Di mana ibu teh
12    Ada menjual baju pramuka
13    Kekecilan dengan anak kamu
14    Siapa yang mengantar
15    Jangan terlalu nakal
16    Sudah sore
17    Kapan nenek sampai
18    Tidur di sinikan
19    Nenek Cuma satu malam saja
20    Oteh salat
21    Oteh mau atau tidak uang logam
22    Kamu belanja
23    Di sini becek sekali jalannya
24    Sudah selesai mandi
25    Tidak bisa kuat
26    Lama sekali kamu ini
27    Berapa harganya
28    Ibu mau kopi
29    Sudah lama kamu libur
30    Pegang dengan kuat
31    Sama-sama saja kita
32    Berhenti di rumah
33    Tunggu sebentar
34    Masakkan saya indomi
35    Membuat kopi
36    Tia kamu sudah makan
37    Ini nasi kamu
38    Mengambil keripik
39    Berhutang terus
40    Dipanaskan terlebih dahulu ya
41    Di mana kunci
42    Nanti antar ibu
43    Oteh kemana
44    Berhentilah bermain
45    MDA di mana
46    Ibu membeli cempedak
47    Kuat kamu makan
48    Rambutan asam
49    Usir monyet
50    Tolong bawakan saya duku



2.2      Analisis Data
2.2.1        Bahasa Daerah Desa Sekara yang Tergolong Frase Endosentris
Contoh:
10. Frase awak lagi ngantuk
             Tergolong pada frase endosentris karena unsur pusatnya mampu berdistribusi dengan frase yang dibentuknya. Unsur inti awak dan ngantuk  ternyata memiliki distribusi yang sama dengan frase-frase yang dibentuknya. Frase awak lagi ngantuk ternyata dapat diganti dengan kata awak ngantuk saja. Tidak perlu menambahkan kata lagi, juga sudah membentuk frase.
Contoh:
14.Frase  siapo yang ngantagh
            Frase siapo yang ngantagh tergolong pada frase endosentris  karena unsur pusatnya mampu berdistribusi dengan frase yang dibentuknya. Unsur inti siapa dan ngantar ternyata memiliki distribusi yang sama dengan frase yang dibentuknya. Jadi, kata yang  tidak dipakaipun sudah membentuk frase siapo ngantagh.
Contoh:
15. Frase Jengan Nak tabangngak amat
            Tergolong dalam frase endosentris karena unsur pusatnya mampu berdistribusi dengan frase yang dibentuknya. Unsur inti jengan dan tabangngak ternyata memiliki distribusi yang sama dengan frase yang dibentuknya. Jadi frase jengan nak bisa diganti jengan saja dan frase tabangngak amat bisa diganti tabangngak . Tidak perlu ditambahkan kata nak dan amat karena dia bisa membentuk frase jengan tabanggak.
Contoh:
24. Frase Lah sudah mandi
            Tergolong dalam frase endosentris karena unsur pusatnya mampu berdistribusi dengan frase yang dibentuknya. Unsur inti lah dan mandi ternyata memiliki distribusi yang sama dengan frase yang dibentuknya. Jadi tidak perlu lagi menggunakan kata sudah, karena frase lah mandi jika kita ucapkan sudah bisa di mengerti oleh orang lain serta sudah menunjukkan bahwa dia sudah selesai mandi.
Contoh:
25. Frase Dak andak taghghik
            Tergolong dalam frase endosentris karena unsur pusatnya mampu berdistribusi dengan frase yang dibentuknya. Unsur inti dak dan taghngik ternyata memiliki distribusi yang sama dengan frase yang dibentuknya. Jadi tidak perlu lagi menggunakan kata andak, karena frase dak taghghik  jika kita ucapkan sudah bisa di mengerti oleh orang lain bahwa apa yang diikat oleh seseorang itu belumlah kuat ikatannya.
Contoh:
31. Frase Saghampak jo lah kito
            Tergolong dalam frase endosentris karena unsur pusatnya mampu berdistribusi dengan frase yang dibentuknya. Unsur inti saghampak dan kito  ternyata memiliki distribusi yang sama dengan frase yang dibentuknya. Jadi tidak perlu lagi menggunakan kata  jo  dan lah karena frase saghampak kito  jika kita ucapkan sudah bisa di mengerti oleh orang lain bahwa seseorang ingin mengejak pergi bersama-sama.
2.2.2        Bahasa Daerah Desa Sekara yang Tergolong Frase Endosentris Koordinatif
Contoh:
3. Frase Cappatlah, lambat  nian kau ko
            Tergolong ke dalam frase endosentris koordinatif karena kata-kata di atas tergolong pada endosentris koordinatif apositif, terlihat pada kata nian yang berfungsi sebagai penjelas tambahan yang ditandai denga jeda sebagai pembatas inti dan penjelas tambahan dalam frase cappatlah, lambat nian kau ko.
Contoh:
4. Frase Mak nak kaghumah ngah
            Tergolong ke dalam frase endosentris koordinatif karena kata-kata di atas tergolong pada endosentris koordinatif apositif, terlihat pada kata nak yang berfungsi sebagai penjelas tambahan yang ditandai denga jeda sebagai pembatas inti dan penjelas tambahan dalam frase mak nak kaghumah ngah.
Contoh:
5. Frase Kau nak ballian apo?
            Tergolong ke dalam frase endosentris koordinatif karena kata-kata di atas tergolong pada endosentris koordinatif apositif, terlihat pada kata nak yang berfungsi sebagai penjelas tambahan yang ditandai denga jeda sebagai pembatas inti dan penjelas tambahan dalam frase Kau nak ballian apo?
Contoh:
6. Frase Apo lokaan kau tu?
            Tergolong ke dalam frase endosentris koordinatif karena kata-kata di atas tergolong pada endosentris koordinatif apositif, terlihat pada kata tu yang berfungsi sebagai penjelas tambahan yang ditandai denga jeda sebagai pembatas inti dan penjelas tambahan dalam frase Apo lokaan tu?
Contoh:
7. Frase Awak nak balli ghambutan sakillo
            Tergolong ke dalam frase endosentris koordinatif karena kata-kata di atas tergolong pada endosentris koordinatif apositif, terlihat pada kata nak yang berfungsi sebagai penjelas tambahan yang ditandai denga jeda sebagai pembatas inti dan penjelas tambahan dalam frase awak nak balli ghambutan sakillo.
Contoh:
13. Frase Kakacik an dengan anak kau dak
            Tergolong ke dalam frase endosentris koordinatif karena kata-kata di atas tergolong pada endosentris koordinatif apositif, terlihat pada kata dak dan dengan yang berfungsi sebagai penjelas tambahan yang ditandai denga jeda sebagai pembatas inti dan penjelas tambahan dalam frase kakacik an dengan anak aku dak.
contoh:
19. Frase Nenek cumon samalam jo
            Tergolong ke dalam frase endosentris koordinatif karena kata-kata di atas tergolong pada endosentris koordinatif apositif, terlihat pada kata  jo yang berfungsi sebagai penjelas tambahan yang ditandai denga jeda sebagai pembatas inti dan penjelas tambahan dalam frase nenek cumon samalam jo.
2.2.3        Bahasa Daerah Desa Sekara yang Tergolong Frase Eksosentris
Contoh:
2. Frase Lah lamo di siko?
            Tergolong pada frase eksosentris karena ditandai dengan adanya partikel di siko dan tidak memiliki distribusi yang sama dengan unsurnya. Frase lah lamo tidak memiliki distribusi terhadap kata di siko.
Contoh:
23. Frase Di siko leak nian jelan
            Tergolong pada frase eksosentris karena ditandai dengan adanya partikel di siko dan tidak memiliki distribusi yang sama dengan unsurnya. Frase leak nian jelan  tidak memiliki distribusi terhadap kata di siko.
Contoh:
32. Frase Singgah di ghumah
            Tergolong pada frase eksosentris karena ditandai dengan adanya partikel di ghumah dan tidak memiliki distribusi yang sama dengan unsurnya. Kata  singgah  tidak memiliki distribusi terhadap kata di ghumah.
Contoh:
41. Frase Di mano kunci
            Tergolong pada frase eksosentris karena ditandai dengan adanya partikel di mano dan tidak memiliki distribusi yang sama dengan unsurnya. Kata di mano tidak memiliki distribusi terhadap kata kunci.
2.2.4        Bahasa Daerah Desa Sekara yang Tergolong Frase Nominal
Contoh:
8. Frase Mano mak kau?
            Tergolong ke dalam frase nominal karena unsur pusatnya pada frase mano mak kau adalah kata mak, kata mak tersebut merupakan nomina atau kata benda.
Contoh:
12. Frase Ado jual beju pramuka
            Tergolong ke dalam frase nominal karena unsur pusatnya pada frase Ado jual beju pramuka adalah kata beju pramuka  kata beju pramuka tersebut merupakan nomina atau kata benda.
Contoh:
17. Frase  Bilo nenek tibo?
            Tergolong ke dalam frase nominal karena unsur pusatnya pada frase bilo nenk tibo adalah kata nenek  kata nenek  tersebut merupakan nomina atau kata benda.
Contoh:
28. Frase Mak ndak kupi
            Tergolong ke dalam frase nominal karena unsur pusatnya pada frase mak ndak kupi adalah kata mak dan kupi kata mak dan kupi tersebut merupakan nomina atau kata benda.
2.2.5        Bahasa Daerah Desa Sekara yang Tergolong Frase Verbal
Contoh:
22. Frase Kau Belenjo!
            Tergolong ke dalam frase verbal, karena kata belenjo merupakan sebuah tindakan atau melakukan pekerjaan.
Contoh:
20. Frase Oteh Sembeyang
            Tergolong ke dalam frase verbal, karena kata sembeyang merupakan sebuah tindakan atau melakukan pekerjaan.
2.2.6        Bahasa Daerah Desa Sekara yang Tergolong Frase Adjektival
contoh:
48. Frase Ghambutan masam
            Tergolonh pada frase adjektiva karena kata masam merupakan kata sifat
2.2.7        Bahasa Daerah Desa Sekara yang Tergolong Frase Numeralia

Contoh:
27. Frase Beghepo ghaggoe
            Tergolong pada frase numeralia karena kata beghepo merupakan kata yang menunjukkan jumlah.












BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Berdasarkan analisis dari data bahasa daerah Melayu Riau Desa Sekara Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir dapat disimpulakan bahwa terdapat 6 tuturan yang tergolong dalam frase endosentris, 7 tuturan yang tergolong frase endosentris koordinatif, 4 tergolong frase eksosentris, 4 tergolong frase nomina, 1 frase adjektival, 1 frase numeralia dan 2 untuk frase verbal.

3.1 Saran
            Saran dari penulis adalah agar kita terus belajar dan terus berfikir kritis terhadap gejala-gejala yang ada dalam bahasa, baik bahasa Indonesia, maupun bahasa daerah bahkan bahasa asing.














DAFTAR PUSTAKA
Sulistyowati, Heny. 2012. Mengenal Struktur Atributif Frasa. Malang: Madani.
Moeliono, Anton. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Bahasa.
Sugono, Dendy  2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama



















Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking